Jumat, 21 November 2014

Sejarah Perang Mu'tah

1. Perhatian Nabi Muhammad SAW tertuju ke arah Negeri Syam

   Nabi SAW.selaku Rasul Allah yang bertugas menyiarkan seruan-Nya kepada segenap umat manusia dari segala bangsa, selama hayat masih dikandung badannya tentu saja tidak akan berhenti melaksanakan tugas kewajibannya,menyiarkan dakwahnya yang suci itu.Oleh sebab itu, sekembali beliau dari Mekkah - melaksanakan Umratu- Qadha, maka perhatian beliau ditujukan ke Tanah Syam dan negeri-negeri yang terletak di bagian utara Jazirah Arab. Karena beliau penuh harapan, kalau-kalau negeri Syam dan wilayah-wilayah yang terletak disekelilingnya dapat dijadikan sebagai jembatan yang pertama untuk menyeberangkan Islam melebarkan sayapnya keluar dari lingkungan batas Tanah Arab.
   Disamping itu, Nabi Saw.tidak pula melupakan perhatiannya terhadap gerak-gerik kaum musyrikin bangsa Arab yang berkediaman di kabilah-kabilah yang ada di sekeliling kota Madinah yang selama ini belum mau mengerti tentang dakwah beliau, yamg menyebabkan mereka itu masih mudah dihasut dan dipengaruhi oleh kaum musyrikin Quraisy di Mekkah untuk mengadakan perlawanan terhadap Islam dan mengacaukan keamanan pusat pemerintahan Islam. Oleh sebab itu, beliau tetap menyimak berita-berita yang datang dari kabilah-kabilah itu, yang sengaja hendak mengacaukan keamanan Islam dan kaum Muslimin.
    Sekalipun Nabi Saw.tidak mempunyai mata-mata yang khusus yang diberi tugas untuk menyelidiki dan menyimak berita-berita tentang gerak-gerik pihak musuh, tetapi lantaran tiap-tiap orang Muslim  di masa itu telah mengerti akan kewajibannya masing-masing, maka mereka itu pun selalu bertindak mencari atau menyimak berita-berita yang datang dari pihak lawan. Oleh sebab itu, maka sewaktu-waktu di antara mereka mendengar berita-berita dari pihak lawan yang hendak mengacaukan keamanan Islam, dengan segera mereka melaporkan kepada Nabi Saw.berhubungan dengan itu, maka sekembali Nabi dan kaum Muslimin dari Mekkah, dan sebelum terjadi peperangan di Mut'ah, beliau berturut-turut mengerahkan pasukan-pasukan perangnya ke tempat-tempat dimana para penduduknya sudah didengar akan mengadakan pengacauan dan menggangu keamanan Islam dan kaum Muslimin.

2. Tentara Islam di kirim ke kaum Banu Sulaim 

   Pada bulan Zulhijjah tahun ke-7 Hijriah,Nabi Saw.mengirim tentara Islam sebanyak 50 orang,dikepalai oleh sahabat Ibnu Abil-Aja (Al-Akhram) ke Kabilah Banu Sulaim . Pasukan ini sebenarnya dikirim oleh Nabi Saw. dengan tugas untuk menyampaikan dakwah Islamiyah kepada penduduk kabilah tersebut.
   Pada waktu itu sebenarnya kaum Banu Sulaim sudah menyusun kekuatan dengan tujuan akan melakukan serangan terhadap kaum Muslim dengan cara sembunyi-sembunyi. Mereka sebelum ada kejadian apapun, telah mengirim seorang mata-mata untuk menyelidiki keadaan kaum Muslimin. Setelah mata-mata mereka itu mengetahui satu pasukan kaum Muslimin telah berangkat ke Madinah, menuju ke Kabilah mereka, dengan cepat mereka mengumpulkan tentara dan alat-alat perang yang cukup lengkap untuk mengadakan perlawanan terhadap tentara kaum Muslimin.
    Kaum Kabilah Banu Sulaim memang terkenal keras dan jahat, sebagaimana telah diketahui di masa yang telah lalu mereka suka mengadakan perlawanan dan membunuh para penyeru dan penyiar Islam yang datang ke kabilah mereka.
    Oleh karena tugas balatentara kaum Muslimin yang dikirim ketika itu ialah untuk menyampaikan dakwah Islam, maka setiba mereka di daerah kaum kabilah tersebut lalu penduduknya diajak dan diserukan oleh Ibnu Abil-Aja supaya mengikuti Islam;tetapi mereka seketika itu menolak dan menghina kepada seruan yang utama dan suci itu. Pada waktu itu, oleh karena mereka telah mengadakan persiapan untuk mengadakan perlawanan, maka seketika itu juga sebagian dari mereka melepaskan panah-panah mereka, dan sebagian lainnya mengepung tentara kaum Muslim.
     Berhubungan dengan itu, maka terjadilah pertempuran seru antara kaum Muslimin yang hanya kekuatan lima puluh orang itu dengan tentara mereka;tentara kaum Muslimin dikerubut dengan hebatnya oleh tentar mereka, yang mengakibatkan ketewasan kaum Muslimin seluruhnya, kecuali sahabat Al-Akhram yang dapat meloloskan dirinya dengan menderita luka-luka pada tubuhnya. Dengan susah payah Al-Akhram dapat kembali ke Madinah, lalu menyampaikan peristiwa yang sangat menyedihkan itu kepada Nabi Saw.

3. Tentara Islam dikirim ke kaum Banu Mulawwah

   Pada bulan Shafar tahun kedelapan Hijriah, Nabi Saw.mengirimkan satu pasukan dengan kekuatan sepuluh orang (kurang dari dua puluh orang) dengan dikepalai oleh sahabat Ghalib bin Abdullah al-Lattsi ke Banu Mulawwah di Kadid, yang teletak di antara Usfan dan Qudaid, dengan tugas untuk mengadakan pembersihan di sana.
   Pasukan kaum Muslimin ini setelah sampai di Kudaid, mendadak mereka berjumpa dengan seorang kepala kaum yang bernama Harits bin Malik al-Lattsi, lalu mereka menawannya.
   Sesampai mereka di tempat kaum yang dituju, lalu menyerbulah mereka ke tempat itu dan menghancurkan penduduknya;kemudian dapat merampas binatang-binatang unta dan kambing mereka. Oleh karena kaum yang diserbu itu besar jumlahnya, maka setalah diketahui oleh mereka (pihak lawan), bahwa tentara kaum Muslim yang sedikit jumlahnya itu merampas dan menghalau binatang-binatang ternak mereka, lalu mereka mengadakan perlawanan terhadap tentara Islam,dengan kekuatan yang kiranya pasukan ini tidak akan sanggup melawannya. Tetapi sebelum perlawanan mereka berlangsung, mendadak ketika itu turunlah hujan lebat yang tidak disangka-sangka oleh kedua belah pihak, yang menyebabkan air bah mengalir dengan derasnya di lembah mereka, sehingga AW mmereka tidak dapat lagi melalui lembah itu.
   Dengan demikian, maka tidak terjadi pertempuran antara tentara Islam dengan mereka;dan pasukan yang sedikit jumlah tentaranya ini akhirnya dapat kembali ke Madinah dengan selamat serta membawa kemenangan.
4. Tentara Islam dikirim ke Kaum Banu Murrah di Fadak
     Pada bulan Safar tahun ke-8 hijriyah. Nabi Muhammad Semerintahkan sahabat Zubair bin Al-Awwam supaya berangkat memimpin satu pasukan kaum Muslimin yang dikirim ke Kabilah Banu Murrah di Fadak. Sebelumnya pada tahun ke-7 hijriyah, satu pasukan kaum Muslimin dipimpin oleh Basyir bin Sa'ad sempat dikalahkan oleh Banu Murrah di Fadak.
      Tatkala Zubair sedang berkemas-kemas dan bersiap hendak berangkat, mendadak datang Ghalib bin Abdullah al-Laits dari Kadid dengan membawa kemenangan. Nabi Muhammad SAW waktu itu lalu menghentikan Zubair dan memerintahkan Ghalib Supaya dialah yang berangkat lagi yang dipimpin kaum Muslimin yang hendak diberangkatkan itu.
      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar