PERISTIWA-PERISTIWA DI ALAM KUBUR
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ
أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ
الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya
pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari
neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan
dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali Imrân/3:185]
Allâh Azza wa Jalla memberikan pemberitaan umum kepada seluruh
makhluk, bahwa setiap jiwa akan merasakan kematian.. Adapun jin, manusia,
malaikat, semua akan mati.
Kematian merupakan hakekat yang menakutkan. Dia akan mendatangi
seluruh orang yang hidup dan tidak ada yang kuasa menolak maupun menahannya.
Maut merupakan ketetapan Allâh Azza wa Jalla Ini adalah hakekat yang sudah
diketahui. Maka sepantasnya kita bersiap diri menghadapinya dengan iman sejati
dan amal shalih yang murni.
Di dalam tulisan ini insya Allah akan kami sampaikan beberapa
peristiwa yang terjadi di alam kubur sehingga menjadikan kita lebih waspada
dalam menjalani kehidupan dunia ini agar selamat di alam kubur.
ALAM KUBUR MENAKUTKAN
Hani’ Radhiyallahu anhu , bekas budak Utsmân bin Affân Radhiyallahu
anhu , berkata,
"Kebiasaan Utsman Radhiyallahu anhu jika berhenti di sebuah
kuburan, beliau menangis sampai membasahi janggutnya. Lalu beliau Radhiyallahu
anhu ditanya, ‘Disebutkan tentang surga dan neraka tetapi engkau tidak
menangis. Namun engkau menangis dengan sebab ini (melihat kubur), (Mengapa
demikian?)’
Beliau, ‘Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
(yang artinya) ‘Kubur adalah persinggahan pertama dari
(persinggahan-persinggahan) akhirat. Bila seseorang selamat dari
(keburukan)nya, maka setelahnya lebih mudah darinya; bila seseorang tidak
selamat dari (keburukan)nya, maka setelahnya lebih berat darinya.’ Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Aku tidak melihat suatu
pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.’”
[HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah
Karena fase setelah kubur lebih mudah bagi yang selamat, maka ketika melihat surga yang disiapkan Allâh Azza wa Jalla dalam kuburnya, seorang Mukmin mengatakan, “Ya Rabb, segerakanlah kiamat agar aku kembali ke keluarga dan hartaku.”
Sebaliknya, orang-orang kafir, ketika melihat adzab pedih yang disiapkan Allâh Azza wa Jalla baginya, ia berseru, “Ya Rabb, jangan kau datangkan kiamat.” Karena yang akan datang setelahnya lebih pedih siksanya dan lebih menakutkan.
Karena fase setelah kubur lebih mudah bagi yang selamat, maka ketika melihat surga yang disiapkan Allâh Azza wa Jalla dalam kuburnya, seorang Mukmin mengatakan, “Ya Rabb, segerakanlah kiamat agar aku kembali ke keluarga dan hartaku.”
Sebaliknya, orang-orang kafir, ketika melihat adzab pedih yang disiapkan Allâh Azza wa Jalla baginya, ia berseru, “Ya Rabb, jangan kau datangkan kiamat.” Karena yang akan datang setelahnya lebih pedih siksanya dan lebih menakutkan.
GELAPNYA ALAM KUBUR
Hal ini ditunjukkan oleh hadits shahih :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ
الْمَسْجِدَ - أَوْ شَابًّا - فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عَنْهَا - أَوْ عَنْهُ - فَقَالُوا مَاتَ. قَالَ « أَفَلاَ كُنْتُمْ
آذَنْتُمُونِى ». قَالَ فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا - أَوْ أَمْرَهُ - فَقَالَ
« دُلُّونِى عَلَى قَبْرِهِ. فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَ « إِنَّ
هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ
وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِى عَلَيْهِمْ ».
Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa seorang wanita
hitam atau seorang pemuda biasa menyapu masjid Nabawi pada masa Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mendapatinya sehingga beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menanyakannya.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mendapatinya sehingga beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menanyakannya.
Para sahabat menjawab, ‘Dia telah meninggal’. Beliau shallallahu
'alaihi wa sallam berkata, ‘Kenapa kalian tidak memberitahukan kepadaku?’ Abu
Hurairah berkata, ‘Seolah-olah mereka meremehkan urusannya’.
Beliau shallallahu 'allaihi wa sallam bersabda, ‘Tunjukkan
kuburnya kepadaku’. Lalu mereka menunjukkannya, beliau pun kemudian menyalati
wanita itu, lalu bersabda, “Sesungguhnya kuburan-kuburan ini dipenuhi kegelapan
bagi para penghuninya, dan sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyinarinya
bagi mereka dengan shalatku terhadap mereka.” [HR. Bukhari, Muslim, dll]
HIMPITAN ALAM KUBUR
Setelah mayit diletakkan di dalam kubur, maka kubur akan
menghimpit dan menjepit dirinya. Tidak seorang pun yang dapat selamat dari
himpitannya. Beberapa hadits menerangkan bahwa kubur menghimpit Sa’ad bin Muadz
Radhiyallahu anhu , padahal kematiannya membuat ‘arsy bergerak, pintu-pintu
langit terbuka, serta malaikat sebanyak tujuh puluh ribu menyaksikannya.
Dalam Sunan an-Nasâ’i diriwayatkan dari Ibn Umar Radhiyallahu
anhuma bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
هَذَا الَّذِى تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ
السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْمَلاَئِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ
ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ
Inilah yang membuat ‘arsy bergerak, pintu-pintu langit dibuka,
dan disaksikan oleh tujuh puluh ribu malaikat. Sungguh ia dihimpit dan dijepit
(oleh kubur), akan tetapi kemudian dibebaskan.”
diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda :
إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِياً مِنْهَا
نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ
Sesungguhnya kubur memiliki himpitan yang bila seseorang selamat
darinya, maka (tentu) Saad bin Muâdz telah selamat.
[HR. Ahmad, no. 25015; 25400; ]
Himpitan kubur in akan menimpa semua orang, termasuk anak kecil. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
[HR. Ahmad, no. 25015; 25400; ]
Himpitan kubur in akan menimpa semua orang, termasuk anak kecil. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَنَجَا هَذَا
الصَّبِيُّ
Seandainya ada seseorang selamat dari himpitan kubur, maka bocah
ini pasti selamat
[Mu'jam ath-Thabrani dari Abu Ayyub Radhiyallahu anhu dengan sanad shahih
[Mu'jam ath-Thabrani dari Abu Ayyub Radhiyallahu anhu dengan sanad shahih
FITNAH (UJIAN) KUBUR
Jika seorang hamba telah diletakkan di dalam kubur, dua malaikat
akan mendatanginya dan memberikan pertanyaan-pertanyaan. Inilah yang dimaksud
dengan fitnah (ujian) kubur.
Dalam hadits shahih riwayat Imam Ahmad rahimahullah dari sahabat
al-Barro bin ‘Azib Radhiyallahu anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ:فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ
رَبُّكَ ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَا دِينُكَ ؟
فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي
بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَيَقُولَانِ لَهُ : وَمَا يُدْرِيْكَ ؟ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ
اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي السَّمَاءِ: أَنْ قَدْ
صَدَقَ عَبْدِيفَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ (وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ)
وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ , قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا
وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ قَالَ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ
حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ : أَبْشِرْ
بِالَّذِي يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ , فَيَقُولُ لَهُ :
مَنْ أَنْتَ , فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ, فَيَقُولُ: أَنَا
عَمَلُكَ الصَّالِحُ, فَيَقُولُ: رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى
أَهْلِي وَمَالِي
Kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya, lalu
keduanya bertanya, “Siapakah Rabbmu ?” Dia (si mayyit) menjawab, “Rabbku adalah
Allâh”. Kedua malaikat itu bertanya, “Apa agamamu?”Dia menjawab: “Agamaku
adalah al-Islam”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?” Dia menjawab, “Beliau utusan Allâh”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah ilmumu?” Dia menjawab, “Aku membaca kitab Allâh, aku mengimaninya dan membenarkannya”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?” Dia menjawab, “Beliau utusan Allâh”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah ilmumu?” Dia menjawab, “Aku membaca kitab Allâh, aku mengimaninya dan membenarkannya”.
Lalu seorang penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah
(berkata) benar, berilah dia hamparan dari surga, (dan berilah dia pakaian dari
surga), bukakanlah sebuah pintu untuknya ke surga.
Maka datanglah kepadanya bau dan wangi surga. Dan diluaskan baginya di dalam kuburnya sejauh mata memandang. Dan datanglah seorang laki-laki berwajah tampan kepadanya, berpakaian bagus, beraroma wangi, lalu mengatakan, “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (kebaikan)”.
Maka datanglah kepadanya bau dan wangi surga. Dan diluaskan baginya di dalam kuburnya sejauh mata memandang. Dan datanglah seorang laki-laki berwajah tampan kepadanya, berpakaian bagus, beraroma wangi, lalu mengatakan, “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (kebaikan)”.
Maka ruh orang Mukmin itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau,
wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu
yang shalih”. Maka ruh itu berkata, “Rabbku, tegakkanlah hari kiamat, sehingga
aku akan kembali kepada istriku dan hartaku”.
●Pertanyaan ini juga dilontarkan kepada orang kafir, sebagaimana
yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ : مَنْ
رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ ؟
فَيَقُولُ : هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ
الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيُنَادِي مُنَادٍ
مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ
بَابًا إِلَى النَّارِ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا وَيُضَيَّقُ
عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ
قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ
بِالَّذِي يَسُوءُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ, فَيَقُولُ: مَنْ
أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ
الْخَبِيثُ فَيَقُولُ رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ
Kemudian ruhnya dikembalikan di dalam jasadnya. Dan dua malaikat
mendatanginya dan mendudukannya. Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah
Rabbmu?” Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah agamamu?” Dia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?”Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”.
Lalu penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) dusta, berilah dia hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka." Maka panas neraka dan asapnya datang mendatanginya. Dan kuburnya disempitkan, sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan.
Kedua malaikat itu bertanya, “Apakah agamamu?” Dia menjawab, “Hah, hah, aku tidak tahu”.
Kedua malaikat itu bertanya, “Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?”Dia menjawab: “Hah, hah, aku tidak tahu”.
Lalu penyeru dari langit berseru, “HambaKu telah (berkata) dusta, berilah dia hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka." Maka panas neraka dan asapnya datang mendatanginya. Dan kuburnya disempitkan, sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan.
Dan datanglah seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya,
berpakaian buruk, beraroma busuk, lalu mengatakan, “Terimalah kabar yang
menyusahkanmu ! Inilah harimu yang telah dijanjikan (keburukan) kepadamu”. Maka
ruh orang kafir itu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah
yang membawa keburukan?” Dia menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk”. Maka ruh
itu berkata, “Rabbku, janganlah Engkau tegakkan hari kiamat”.
[Lihat Shahîhul Jâmi’ no: 1672]
[Lihat Shahîhul Jâmi’ no: 1672]
Dari hadits yang telah dikemukakan di atas menunjukkan bahwa
pertanyaan dalam kubur berlaku untuk umum, baik orang Mukmin maupun kafir.
ADZAB DAN NIKMAT KUBUR
Banyak sekali hadits yang menjelaskan keberadaan adzab dan
nikmat kubur. Hal ini telah disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah.
Imam Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah , penulis kitab al-Aqîdah
ath-Thahâwiyah, berkata, “Telah mutawatir hadits-hadits dari Rasûlullâh tentang
keberadaan adzab dan nikmat kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya;
Demikian juga pertanyaan dua malaikat. Oleh karena itu, wajib meyakini dan
mengimani kepastian ini.
Dan kita tidak membicarakan bagaimana caranya, karena akal tidak memahami bagaimana caranya, karena keadaan itu tidak dikenal di dunia ini. Syari’at tidaklah datang membawa perkara yang mustahil bagi akal, tetapi terkadang membawa perkara yang membingungkan akal. Karena kembalinya ruh ke jasad (di alam kubur) tidaklah dengan cara yang diketahui di dunia, namun ruh dikembalikan ke jasad dengan cara yang berlainan dengan yang ada di dunia.”
Dan kita tidak membicarakan bagaimana caranya, karena akal tidak memahami bagaimana caranya, karena keadaan itu tidak dikenal di dunia ini. Syari’at tidaklah datang membawa perkara yang mustahil bagi akal, tetapi terkadang membawa perkara yang membingungkan akal. Karena kembalinya ruh ke jasad (di alam kubur) tidaklah dengan cara yang diketahui di dunia, namun ruh dikembalikan ke jasad dengan cara yang berlainan dengan yang ada di dunia.”
[Kitab Syarah al-Aqîdah ath-Thahâwiyah, hlm.450; al-Minhah
al-Ilâhiyah fii Tahdzîb Syarh ath-Thahâwiyah, hlm. 238]
●Kalangan atheis dan orang-orang Islam yang mengikuti pendapat
para filosof mengingkari adanya adzab kubur. Mereka beralasan bahwa setelah
membongkar kubur, mereka tidak melihat sama sekali apa yang diberitakan oleh
nash-nash syariat.
Mereka semua tidak mempercayai apa yang di luar jangkauan ilmu
mereka. Mereka mengira bahwa penglihatan mereka dapat melihat segala sesuatu
dan pendengaran mereka dapat mendengar segala sesuatu, padahal kita saat ini
telah mengetahui beberapa rahasia alam yang oleh penglihatan dan pendengaran
kita tidak dapat menangkapnya.
●Adapun orang-orang yang beriman kepada Allâh Subhanahu wa
Ta’ala akan membenarkan berita-Nya.
Di dalam al-Qur’ân terdapat isyarat-isyarat yang menunjukkan
adanya adzab kubur. Antara lain adalah Firman Allâh Azza wa Jalla tentang
Fir’aun dan kaumnya :
وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ ﴿٤٥﴾ النَّارُ
يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ
أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk.
Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya
kiamat. (dikatakan kepada malaikat), "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke
dalam adzab yang sangat keras".
[al-Mukmin/40: 45-46]
[al-Mukmin/40: 45-46]
“Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh adzab yang amat buruk”,
yaitu tenggelam di lautan, kemudian pindah ke neraka Jahim. "Kepada mereka
dinampakkan neraka pada pagi dan petang”, sesungguhnya ruh-ruh mereka
dihadapkan ke neraka pada waktu pagi dan petang sampai hari kiamat. Jika hari
kiamat telah terjadi ruh dan jasad mereka berkumpul di neraka. Oleh karena
inilah Allâh Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “dan pada hari terjadinya
kiamat. (dikatakan kepada malaikat), "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke
dalam adzab yang sangat keras", yaitu kepedihannya lebih dahsyat dan
siksanya lebih besar. Dan ayat ini merupakan fondasi yang besar dalam
pengambilan dalil Ahlus Sunnah terhadap adanya siksaan barzakh di dalam kubur,
yaitu firmanNya ‘Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang’.
[Tafsir surat al-Mukmin/40: 45-46]
Imam al-Qurthubi t mengatakan, “Mayoritas Ulama menyatakan bahwa
penampakan nereka itu terjadi di barzakh, dan itu merupakan dalil penetapan
adanya siksa kubur”.
[Fathul Bâri 11/233]
[Fathul Bâri 11/233]
SEBAB-SEBAB SIKSA KUBUR[1]
Sebab-sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan siksa kubur
ada dua bagian,
○mujmal (global) dan
○mufash-shal (rinci).
○mufash-shal (rinci).
Sebabnya secara mujmal (global), yaitu
■kebodohan terhadap Allâh Azza wa Jalla ,
■menyia-nyiakan perintah-Nya, dan menerjang larangan-Nya.
■kebodohan terhadap Allâh Azza wa Jalla ,
■menyia-nyiakan perintah-Nya, dan menerjang larangan-Nya.
Sedangkan sebabnya secara mufash-shal (rinci),
■adalah perkara-perkara yang dijelaskan oleh nash-nash sebagai sebab siksa kubur.
■adalah perkara-perkara yang dijelaskan oleh nash-nash sebagai sebab siksa kubur.
Di sini akan kami sebutkan di antara sebab mufash-shal sehingga
kita bisa menjauhinya:
●1. Namimah, yaitu menyampaikan perkataan seseorang kepada orang
lain untuk merusak hubungan mereka.
●2. Tidak menutupi diri ketika buang hajat.
●3. Ghulul, yaitu mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi oleh imam.
●4. Dusta.
●3. Ghulul, yaitu mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi oleh imam.
●4. Dusta.
●5. Memahami al-Qur’ân namun tidak mengamalkannya.
●6. Zina
●7. Riba
●8. Mayit yang ditangisi keluarganya, jika mayit tersebut tidak
melarang sebelumnya.
HAL-HAL YANG MENYELAMATKAN DARI SIKSA KUBUR
Perkara yang akan menyelamatkan seseorang dari adzab kubur
adalah orang yang mempersiapkan diri sebelum menghadapi kematian yang datang
tiba-tiba.
Di antara persiapan menghadapi maut adalah
■segera bertaubat,
■menunaikan kewajiban syariat,
■memperbanyak amal shalih,
■memperbaiki akidah,
■berjihad,
■berbuat baik pada orang tua,
■menyambung silaturahim, dan amal-amal shalih lainnya.
■segera bertaubat,
■menunaikan kewajiban syariat,
■memperbanyak amal shalih,
■memperbaiki akidah,
■berjihad,
■berbuat baik pada orang tua,
■menyambung silaturahim, dan amal-amal shalih lainnya.
Dengan amalan tersebut Allâh Azza wa Jalla memberinya jalan
keluar dari tiap kesulitan dan kesusahan.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dengan mengutip hadits Abu
Hurairah Radhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Abu Hâtim dalam shahih-nya,
■“Sesungguhnya orang mati dapat mendengar suara langkah kaki
orang-orang yang pergi meninggalkannya.
■Jika ia seorang Mukmin, maka shalat berada di dekat kepalanya, puasa berada di sebelah kanannya, zakat disebelah kirinya, perbuatan baik seperti berkata benar, silaturahim, dan perbuatan baik kepada manusia berada di dekat kaki.
■Ia lalu didatangi (oleh malaikat) dari arah kepalanya, maka shalat berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’
■Kemudian ia didatangi dari sebelah kanan, maka puasa berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’
■Kemudian ia didatangi dari sebelah kiri, maka zakat berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’
■Kemudian ia didatangi dari arah kedua kakinya, maka perbuatan baik, seperti berkata benar, silaturahim, dan berbuat baik kepada manusia, berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’
■Lalu dikatakan kepadanya, ‘Duduklah.’ Ia pun duduk. Kepadanya ditampakkan bentuk serupa matahari yang hampir terbenam. Ia ditanya, ‘Siapa lelaki ini yang dulu bersama kalian? Apa pendapatmu tentangnya?’ Ia menjawab, ‘Tinggalkan aku, aku ingin shalat.’ Mereka menyahut, ‘Sungguh kamu akan melakukannya, tetapi jawablah pertanyaan kami.’ Ia berkata, ‘Apa pertanyaan kalian?’
Mereka menanyakan, ‘Apa pendapatmu tentang lelaki ini yang dulu bersama kalian? Apa persaksianmu terhadapnya?’ Ia menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa ia adalah utusan Allâh, dan dia membawa kebenaran dari Allâh.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Dengan dasar keimanan itulah kau telah hidup, dan dengan dasar itu kau telah mati, dan dengan dasar itu pula kau akan dibangkitkan, insya Allâh.’ Kemudian dibukakan baginya pintu surga, lalu dikatakan kepadanya, ‘Ini tempat tinggalmu di surga dan segala yang telah Allâh siapkan untukmu.’ Ia bertambah senang dan gembira.
■Kemudian dibukakan pintu neraka, dan dikatakan, ‘Itu adalah tempat tinggalmu dan segala yang telah Allâh siapkan untukmu (jika kau mendurhakai-Nya).’ Ia bertambah senang dan gembira. Kemudian kuburnya diluaskan seluas tujuh puluh hasta dan diterangi cahaya, jasadnya dikembalikan seperti semula, dan ruhnya dijadikan di dalam penciptaan yang baik, yaitu burung yang bertengger di pohon surga.”
■Jika ia seorang Mukmin, maka shalat berada di dekat kepalanya, puasa berada di sebelah kanannya, zakat disebelah kirinya, perbuatan baik seperti berkata benar, silaturahim, dan perbuatan baik kepada manusia berada di dekat kaki.
■Ia lalu didatangi (oleh malaikat) dari arah kepalanya, maka shalat berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’
■Kemudian ia didatangi dari sebelah kanan, maka puasa berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’
■Kemudian ia didatangi dari sebelah kiri, maka zakat berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’
■Kemudian ia didatangi dari arah kedua kakinya, maka perbuatan baik, seperti berkata benar, silaturahim, dan berbuat baik kepada manusia, berkata, ‘Di arahku tidak ada jalan masuk.’
■Lalu dikatakan kepadanya, ‘Duduklah.’ Ia pun duduk. Kepadanya ditampakkan bentuk serupa matahari yang hampir terbenam. Ia ditanya, ‘Siapa lelaki ini yang dulu bersama kalian? Apa pendapatmu tentangnya?’ Ia menjawab, ‘Tinggalkan aku, aku ingin shalat.’ Mereka menyahut, ‘Sungguh kamu akan melakukannya, tetapi jawablah pertanyaan kami.’ Ia berkata, ‘Apa pertanyaan kalian?’
Mereka menanyakan, ‘Apa pendapatmu tentang lelaki ini yang dulu bersama kalian? Apa persaksianmu terhadapnya?’ Ia menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa ia adalah utusan Allâh, dan dia membawa kebenaran dari Allâh.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Dengan dasar keimanan itulah kau telah hidup, dan dengan dasar itu kau telah mati, dan dengan dasar itu pula kau akan dibangkitkan, insya Allâh.’ Kemudian dibukakan baginya pintu surga, lalu dikatakan kepadanya, ‘Ini tempat tinggalmu di surga dan segala yang telah Allâh siapkan untukmu.’ Ia bertambah senang dan gembira.
■Kemudian dibukakan pintu neraka, dan dikatakan, ‘Itu adalah tempat tinggalmu dan segala yang telah Allâh siapkan untukmu (jika kau mendurhakai-Nya).’ Ia bertambah senang dan gembira. Kemudian kuburnya diluaskan seluas tujuh puluh hasta dan diterangi cahaya, jasadnya dikembalikan seperti semula, dan ruhnya dijadikan di dalam penciptaan yang baik, yaitu burung yang bertengger di pohon surga.”
MEMOHON PERLINDUNGAN KEPADA ALLAH DARI FITNAH DAN ADZAB KUBUR
Fitnah (ujian) dan adzab kubur adalah masalah besar, sehingga
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan dari hal itu,
baik dalam shalat maupun di luar shalat. Beliau pun sangat menekankan kepada
umatnya untuk memohon perlindungan kepada Allâh dari segala fitnah dan azab
kubur.
ORANG-ORANG YANG TERPELIHARA DARI UJIAN DAN SIKSA KUBUR
Sebagian kaum Mukmin yang melakukan amal-amal besar atau
tertimpa musibah besar akan terjaga dari fitnah atau ujian dan azab kubur,
Diantara mereka :
●Pertama : Orang yang mati syahid.
an-Nasâ’i rahimahullah meriwayatkan dalam Sunan-nya bahwa
seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Ya
Rasûlullâh, mengapa kaum Mukmin diuji dalam kubur kecuali yang mati syahid?”
Beliau menjawab, “Cukuplah baginya ujian kilatan pedang di atas kepalanya.”
●Kedua : Seseorang yang gugur ketika bertugas jaga di jalan
Allah
Fadhdhalah ibn Ubaid meriwayatkan dari Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam , bahwa beliau bersabda,
“Setiap orang yang meninggal amalnya ditutup, kecuali yang
meninggal ketika bertugas jaga di jalan Allâh. Amalnya terus tumbuh sampai hari
kiamat dan ia akan aman dari fitnah kubur.”
[HR. Tirmidzi dan Abu Dawud;
●Ketiga : Seseorang yang meninggal hari Jum’at
Dalam
hadits Abdullah ibn Amru, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap
Muslim yang meninggal pada hari Jum’at akan dijaga oleh Allah dari fitnah
kubur.”
[HR. Ahmad dan Tirmidzi;]
[HR. Ahmad dan Tirmidzi;]