Sifat-sifat jahiliyah di antara yang terpenting untuk
diketahui adalah sebagai berikut:
1. Syirik Dalam Beribadah
Ibadah adalah segala sesuatu hal yang dikerjakan dengan tujuan akan lebih mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Tapi janganlah ibadah itu di cemari oleh perbuatan-perbuatan yang justru membuat Allah murka. Orang-orang jahiliyah melakukan syirik atau penyekutuan di dalam beribadah dan berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala.
Dalam beribadah selain melakuka sholat masih banyak org yg meminta pertolongan kpd selain Allah. Seperti pergi kekuburan, meskipun kuburan itu kuburan org sholeh kita tidak boleh meminta washilah kpd kuburuan tersebut. Masih banyak kita lihat jaman sekarang orang-orang yang melakukan kebodohan seperti itu. Mereka berdalih, mereka meminta syafaatnya di sisi Allah dengan persangkaan bahwa Allah dan orang-orang shalih tersebut menyintai hal itu
Ibadah adalah segala sesuatu hal yang dikerjakan dengan tujuan akan lebih mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Tapi janganlah ibadah itu di cemari oleh perbuatan-perbuatan yang justru membuat Allah murka. Orang-orang jahiliyah melakukan syirik atau penyekutuan di dalam beribadah dan berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala.
Dalam beribadah selain melakuka sholat masih banyak org yg meminta pertolongan kpd selain Allah. Seperti pergi kekuburan, meskipun kuburan itu kuburan org sholeh kita tidak boleh meminta washilah kpd kuburuan tersebut. Masih banyak kita lihat jaman sekarang orang-orang yang melakukan kebodohan seperti itu. Mereka berdalih, mereka meminta syafaatnya di sisi Allah dengan persangkaan bahwa Allah dan orang-orang shalih tersebut menyintai hal itu
“Dan orang-orang yang mengambil
pelindung selain Allah (berkata), "Kami tidak menyembah mereka melainkan
supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya".
(QS.az-Zumar:3)
Maka rasululloh mengajarkan keikhlasan (pemurnian/tauhid) dalam beribadah hanya kepada Allah subhanahu wata’ala semata. Beliau memberitahukan bahwa agama yang beliau bawa adalah agama seluruh rasul, dan Allah subhanahu wata’ala tidak akan menerima kecuali orang yang ikhlas. Siapa saja yang melakukan kesyirikan dengan dasar istihsan (menganggap baik) maka Allah subhanahu wata’ala mengharamkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka.
Maka rasululloh mengajarkan keikhlasan (pemurnian/tauhid) dalam beribadah hanya kepada Allah subhanahu wata’ala semata. Beliau memberitahukan bahwa agama yang beliau bawa adalah agama seluruh rasul, dan Allah subhanahu wata’ala tidak akan menerima kecuali orang yang ikhlas. Siapa saja yang melakukan kesyirikan dengan dasar istihsan (menganggap baik) maka Allah subhanahu wata’ala mengharamkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka.
2. Bercerai Berai Dalam Agama dan
Membanggakan golongan
Di antara sifat jahiliyah adalah
bercerai berai (tafarruq) dalam agama, dan membanggakan golongan-golongan
mereka, sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wata’ala, yg artinya :
“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. 30:31-32)
Demikian pula dalam urusan dunia, mereka juga berpecah belah, dan masing-masing memandang diri mereka yang paling benar. Islam menyeru untuk bersatu dalam agama, sebagaimana difirmankan oleh Allah subhanahu wata’ala, artinya :
“Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu,
“Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (QS. Asy-Syura:13)
Dalam alquran banyak diterangkan, Allah melarang hambanya bercerai berai apa lagi saling bermusuhan.
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS.Ali Imran:105)
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran:103)
“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. 30:31-32)
Demikian pula dalam urusan dunia, mereka juga berpecah belah, dan masing-masing memandang diri mereka yang paling benar. Islam menyeru untuk bersatu dalam agama, sebagaimana difirmankan oleh Allah subhanahu wata’ala, artinya :
“Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu,
“Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (QS. Asy-Syura:13)
Dalam alquran banyak diterangkan, Allah melarang hambanya bercerai berai apa lagi saling bermusuhan.
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS.Ali Imran:105)
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran:103)
3. Meratapi Mayit
Kehilangan sesuatu yg sangat dicintai memang sangat menyedihkan, apalagi suatu itu adalah orang yang sangat berarti bagi kita. Sebagai manusia kita mempunyai sifat sedih itu fitrah dari Allah, tapi janganlah kesedihan itu menjadikan kita melupakan segalanya sampai-sampai kesedihan berlarut-larut, bahkan sampai menyalahkan dan melupakan Allah. Karena kematian itu pasti datangnya, tiada yang bisa menolaknya.
Kehilangan sesuatu yg sangat dicintai memang sangat menyedihkan, apalagi suatu itu adalah orang yang sangat berarti bagi kita. Sebagai manusia kita mempunyai sifat sedih itu fitrah dari Allah, tapi janganlah kesedihan itu menjadikan kita melupakan segalanya sampai-sampai kesedihan berlarut-larut, bahkan sampai menyalahkan dan melupakan Allah. Karena kematian itu pasti datangnya, tiada yang bisa menolaknya.
4. Tidak Taat Kepada Ulil Amri
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam memerintahkan untuk mendengarkan dan taat kepada ulul amri,bersabar
atas kezhaliman penguasa dan memberikan nasehat kepada mereka.
"Sesungguhnya Allah ridha pada kalian dalam tiga hal; "Jika kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun; Jika kalian berpegang teguh dengan tali Allah dan tidak berpecah belah; dan jika kalian saling memberi nasehat kepada orang yang diserahi oleh Allah untuk memegang urusan kalian." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Berbagai problem yang dihadapi manusia baik dalam masalah agama ataupun keduniaan tidak lain disebabkan karena adanya masalah dalam tiga hal ini, atau salah satu dari ketiganya.
"Sesungguhnya Allah ridha pada kalian dalam tiga hal; "Jika kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun; Jika kalian berpegang teguh dengan tali Allah dan tidak berpecah belah; dan jika kalian saling memberi nasehat kepada orang yang diserahi oleh Allah untuk memegang urusan kalian." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Berbagai problem yang dihadapi manusia baik dalam masalah agama ataupun keduniaan tidak lain disebabkan karena adanya masalah dalam tiga hal ini, atau salah satu dari ketiganya.
5. Membanggakan dan Mencela
Keturunan
Salah satu sifat orang jahiliyah adalah membanggakan keturunan yang berlebihan. Bangga dengan suksenya yang diraih oleh keturunan anak kita boleh-boleh saja, tapi jangan sampai sifat sombong hadir dalam hati kita, sesungguhnya orang yang sombong itu dibenci oleh Allah SWT. Apalagi sampai membandingkan keturunan-keturunan orang lain bahkan sampai mencelanya. Karena kemuliaan dan ketaqwaan seseorang bukanlah diukur dengan sukses tidaknya keturunan, tapi karena iman dan amal shalehnya.
Salah satu sifat orang jahiliyah adalah membanggakan keturunan yang berlebihan. Bangga dengan suksenya yang diraih oleh keturunan anak kita boleh-boleh saja, tapi jangan sampai sifat sombong hadir dalam hati kita, sesungguhnya orang yang sombong itu dibenci oleh Allah SWT. Apalagi sampai membandingkan keturunan-keturunan orang lain bahkan sampai mencelanya. Karena kemuliaan dan ketaqwaan seseorang bukanlah diukur dengan sukses tidaknya keturunan, tapi karena iman dan amal shalehnya.
6. Membangun Agama di Atas Taqlid
Bahwa agama orang jahiliyah sebagian besarnya dibangun di atas landasan taqlid (ikut-ikutan) ini merupakan kaidah terbesar seluruh orang kafir baik yang dulu maupun di masa kini, sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wata’ala, artinya
“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, "Sesungguh nya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguh nya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka". (QS.az-Zukhruf:23
Bahwa agama orang jahiliyah sebagian besarnya dibangun di atas landasan taqlid (ikut-ikutan) ini merupakan kaidah terbesar seluruh orang kafir baik yang dulu maupun di masa kini, sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wata’ala, artinya
“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, "Sesungguh nya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguh nya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka". (QS.az-Zukhruf:23
7.
Dzhonnul Jahiliah (Ro’yul
jahiliyah/Prasangka Jahiliah)
“Kemudian setelah kamu ditimpa
kesedihan, Dia Menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang meliputi
segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri
mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti
sangkaan jahiliah.” (Al-Maidah:154)
Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa setelah perang Uhud, dimana Mu’tab bin Qusyair dan kawan-kawannya yang diliputi kecemasan dan prasangka buruk terhadap Allah tatkala mengalami kekalahan di perang Uhud. Mereka berfikir, “jika Muhammad dan kaum muslimin berada pada jalan yang benar di atas jalan Tuhan-Nya, mengapa bisa mengalami kekalahan?” demikianlah prasangka jahiliyah yang menghinggapi perasaan dan fikiran mereka. Mereka tak menyadari sesungguhnya Allah hendak memberikan pelajaran dan hikmah yang begitu besar dalam peristiwa Uhud tsb akan pentingnya arti ketaatan dan kedisiplinan.
Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa setelah perang Uhud, dimana Mu’tab bin Qusyair dan kawan-kawannya yang diliputi kecemasan dan prasangka buruk terhadap Allah tatkala mengalami kekalahan di perang Uhud. Mereka berfikir, “jika Muhammad dan kaum muslimin berada pada jalan yang benar di atas jalan Tuhan-Nya, mengapa bisa mengalami kekalahan?” demikianlah prasangka jahiliyah yang menghinggapi perasaan dan fikiran mereka. Mereka tak menyadari sesungguhnya Allah hendak memberikan pelajaran dan hikmah yang begitu besar dalam peristiwa Uhud tsb akan pentingnya arti ketaatan dan kedisiplinan.
Dzonul jahiliyah ini sebenarnya sudah berakar dan mendarah daging di kalangan bangsa Arab yang pada akhirnya merusak keyakinan mereka menjadi musyrik. Mereka sebenarnya mengenal Allah, namun hanya sebatas Rububiyah saja, sebatas kenal bahwa Allah itu Tuhan Pencipta saja. Sedangkan keyakinan mereka telah dihinggapi dengan berbagai pemahaman tahayyul, bid’ah dan khurafat. Sehingga mereka merasa kurang puas dan kurang pantas bila menyembah Allah tanpa wasilah atau perantara berupa patung-patung berhala, sebagaimana yang mereka lihat pada kaum-kaum di Syam, Thaif dan Yatsrib. Kemudian mereka meletakkan sesembahan pemduduk Syam yang bernama Hubal di Ka’bah, demikian pula berhala penduduk Thaif yang bernama Latta dan Uzza dan berhala suku Aus dan Khazraj yang bernama Manat. Penyembahan ini menurut prasangka mereka adalah perbuatan baik yang bernilai ibadah…
8. Hamiyatul Jahiliyah (Kesombongan Jahiliah)
”Ketika orang-orang kafir menanamkan
dalam hati mereka kesombongan, (yaitu) kesombongan jahiliah, lalu Allah
menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu’min dan Allah
mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa …….” (Al-Fath : 26) ).
Ketika Rasulullah saw ingin melaksanakan umrah ke Makkah yang saat itu dikuasai oleh Musyrikin Quraisy, terjadilah suatu peristiwa yang dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah. Orang kafir Quraisy dengan sombongnya menolak dua kata dalam rumusan perjanjian yang dibuat Nabi. Pertama mereka menolak kata “Bismillahirrahmanirrahim”, dan kedua mereka monolak kata “Rasulullah (Utusan Allah)”. Mereka berdalih: “ Jika kami menyetujui kata-kata itu berarti kami meyakini apa yang kalian yakini lalu karena apa dahulu kami mengusir kalian….”.
9.
Tabarrujul Jahiliah (Hiasan/Dandanan
Jahiliah)
”Dan hendaklah kamu tetap di
rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang
jahiliah yang dahulu” (Al-Ahzab : 33)
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa budaya mengekspoitasi kemolekan tubuh wanita menjadi karakteristik utama masyarakat jahiliah. Arti tabarruj yang sebenarnya ialah: ”membuka dan menampakkan sesuatu untuk dilihat mata”. Az-Zamakhsyari berkata: “Bahwa tabarruj itu ialah memaksa diri untuk membuka sesuatu yang seharusnya disembunyikan.” Tabarruj ini mempunyai bentuk dan corak yang bermacam-macam yang sudah dikenal oleh orang-orang banyak sejak zaman dahulu sampai sekarang.
Dalam hadis Rasulullah Saw. Bersabda, ”jika Allah hendak menghancurkan suatu negeri, maka terlebih dahulu dilepaskannya rasa malu dari kaum itu” (HR.Bukhari Muslim).
10.
Hukmul Jahiliah (Hukum Jahiliah). Kejahiliyahan
berkaitan dengan masalah hukum /syari’at.
Allah swt berfirman dalam QS.
Al-Maidah:50…
“Apakah hukum jahiliah yang mereka
kehendaki? Dan (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi
orang-orang yang yakin?”
Ada beberapa hal yang patut kita perhatikan dalam ayat tersebut:
1. Penggunaan huruf istifham “A” atau Hamzah (yang berarti: apakah) yang disebut dalam kalimat pertama ayat ini menurut Asy-Syaukani dalam kitab Fathul Qadir menunjukkan istifham inkari, yakni bentuk pertanyaan yang dimaksud adalah pengingkaran dan penjelekkan orang yang melakukannya.
2. Maf’ul atau Objek (hukmul jahiliyah) dikedepankan dari fi’ilnya, ini bisa difahami bahwa pertanyaan tersebut tidak lagi memerlukan jawaban karena memang sudah difahami bahwa mereka benar-benar menyukai hukum jahiliyah.
3. Penggunaan isim tafdhil (superlative) dalam lafadz “ahsana” pada kalimat kedua ayat tersebut menguatkan bahwa tidak ada hukum di dunia ini yang paling baik, yang paling sempurna dan yang paling adil selain dari pada hukum Allah, yakni Al-Qur’an dan Sunnah atau syari’at Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar